Inertia dan Tranformasi Intelektual
Oleh Charles Beraf
MEMBACA artikel tanggapan Yusuf Leonard Henuk (YLH) terhadap artikel Florianus Geong (FG) (PK, 30 Juni 2011), secara spontan terbayang dalam benak saya betapa ?belepotan? isi kepala YLH yang bergelar profesor itu. YLH memberi tanggapan atas tanggapan FG yang amat jauh dari substansi yang diangkat FG (PK, 22 Juni 2011) dalam menegaskan seruan profetis Hengki Ola Sura (HOS) kepada para profesor NTT (PK,4 Juni 2011). Baik FG maupun HOS, melalui tulisan mereka, sama - sama mendambakan ?turun?nya profesor dari menara gading ilmu dan gelar mereka kepada masyarakat NTT. Aktivitas “turun” dari menara gading ini, oleh FG dan HOS, dianjurkan agar dibuktikan para profesor NTT melalui koran sebagai media yang sangat gampang terjangkau oleh publik NTT. Sayangnya, substansi yang diangkat FG dan HOS itu ditanggapi dan dimengerti secara sangat serampangan oleh YLH, baik dalam artikel menanggapi HOS (PK, 17 Juni 2011) maupun menanggapi FG (PK, 30 Juni 2011).
Dalam artikel tanggapan terhadap HOS, YLH justru memaparkan sederet prestasi (yang masih patut juga dipertanyakan) yang sama sekali tidak diminta atau tidak dimaksudkan oleh HOS. Hal serupa juga tampak dalam artikel tanggapan YLH terhadap FG, yang semakin menunjukkan betapa melencengnya YLH dari substansi masalah yang diangkat baik oleh HOS maupun oleh FG. Dua tanggapan “melenceng” YLH itu mengindikasikan bahwa YLH, meski bergelar profesor, masih bermasalah tidak hanya dalam hal menulis sebuah teks tanggapan, tetapi juga dalam hal membaca teks (mengerti teks). Membaca teks secara salah bisa menyeret orang kepada kesesatan berpikir, bahkan hingga pada kegampangan menjatuhkan vonis tertentu yang tidak tepat sasar.
Kesesatan berpikir dan kegampangan menjatuhkan vonis yang tak tepat sasar ini tampak secara kuat dalam dua artikel tanggapan YLH, yakni kepada FG dan kepada HOS. Pertama, terhadap seruan (anjuran) HOS maupun FG agar para profesor NTT menuangkan gagasan ke media publik (populis) bernama koran, YLH justru berang dengan membawa-bawa soal gengsi menulis. YLH merasa lebih bergengsi kalau menulis di jurnal internasional dengan kredit yang sangat tinggi ketimbang menulis di koran dengan kredit yang jauh di bawah. YLH secara salah mengerti bahwa seruan HOS menidakkan intensi ilmiah YLH dan para profesor NTT lainnya untuk menulis di jurnal ilmiah, termasuk yang berkelas internasional.
Kedua, konteks seruan HOS dan FG berkenaan dengan kebutuhan publik NTT dan atau keprihatinan terhadap situasi masyarakat NTT yang nota bene masih sangat “sepi” dari pemikiran-pemikiran alternatif yang brilian. Dari sinilah, suara seorang profesor dibutuhkan. Namun terhadap ini YLH malah semakin membuktikan dirinya (menegaskan pendapat HOS) sebagai profesor yang masih “ber-menara”dengan menyatakan “lebih baik menulis di jurnal internasional ketimbang di koran”. Hal ini memang tetap harus dikembalikan kepada hak dan kebebasan para profesor. Namun menjadi masalah ketika YLH secara tak etis merendahkan media koran, media publik. Hal perendahan ini semakin tampak menguat dalam pandangan yang amat dikotomistik dengan memposisikan HOS dan FG sebagai mahasiswa, yang hanya patut dan layak membaca koran dan YLH sebagai profesor, yang merasa diri sudah sangat layak mengutip pendapat sendiri. Dalam kasus ini kadar etika profesi YLH patut dipertanyakan. Inikah profesor?
Ketiga, basis argumentasi HOS dan FG adalah situasi dan kebutuhan publik NTT. Ini yang tidak terlihat dalam argumen YLH. Anehnya, profesor sekelas YLH menjadikan SMS (pesan singkat) sebagai basis argumentasi - mendukung paparan prestasi yang dicapai YLH. Di sinilah, letak inkonsistensi pandangan dan pikiran YLH. Di satu sisi, YLH “memposisikan” diri secara sangat elitis, tetapi di sisi lain, ia sendiri menghinakan dirinya secara intelektual sebagai profesor yang bisa mendasarkan suatu argumentasi serius di atas sebaris pesan singkat. Dengan ini, tampaknya sejumput kebanggaan YLH atas prestasi menjadi amat rapuh,longgar dan patut untuk dipertanyakan. Inikah profesor-nya Undana?
Inertia
Dengan paparan YLH tentang sejumput prestasi akademik yang dicapainya, kita patut mengacungkan jempol. Saya terka-gum-kagum ketika membaca debut aka-demik YLH - satu dari sedikit orang NTT yang mengukir prestasi, tidak hanya dalam skala nasional, tetapi juga dalam skala internasional. Saya sampai bergumam, kapan ya saya bisa seperti YLH yang mendulang sukses yang tidak sedikit itu?
Namun, hemat saya, membanggakan sukses masa lalu secara berlebihan bisa berbuntut petaka. Banyak kaum intelektual di mana pun (tidak hanya di NTT), meski dengan track record akademik yang “aduhai”, tidak tahu mau buat apa lagi, selain hanya bisa membanggakan “masa lalu”. Kebanggaan, kemapanan dan kemasyhuran bisa membuat seorang (yang disebut) intelektual menjadi “lembam” (inert). Mereka terlanjur hanyut dalam zona kenyamanan (comfort zone). Mereka terlanjur terjebak dalam complacency trap (kalau tidak dikatakan narsisme).
John Kotter, seorang pakar dari Harvard Business School menyatakan bahwa seorang intelektual yang terkena penyakit ini (personal inertia) selalu menganggap diri mapan, tak terganggu. Karena itu, ketika misalnya tiba-tiba diganggu, apalagi oleh seorang yang terbilang masih “belajar ilmu”, ia bisa berang, bahkan seperti tinta yang belepotan di atas kertas, bicara atau menulis tak kenal ujung pangkalnya.
Transformasi
Suntikan HOS maupun FG kepada para profesor NTT mengindikasikan bahwa absennya kaum intelektual NTT sudah berada pada titik nadir - sebagai dampak dari complacency trap. Impotensi sosial kaum intelektual merupakan puncak dari mengganasnya penyakit inertia, kelembaman.
Karena itu, tak ada salahnya jika kaum intelektual NTT, termasuk para profesor untuk berbenah (transformasi) - suatu turnaround : dari sekedar menulis di jurnal kepada menulis (juga) di koran, dari sekedar berbicara di ruang kuliah kepada terlibat (juga) di ruang publik NTT. Banyak masalah di NTT (tambang, kemiskinan, korupsi, rendahnya mutu pendidikan) membutuhkan bela rasa dan peran serta akademik kaum intelektual. Dalam hal menulis misalnya,termasuk menulis di koran, kita tidak bisa katakan itu sebagai aktivitas dari yang berbakat saja, seperti kata Alo Lilweri dalam opininya (PK,1 Juli 2011), tetapi itu merupakan suatu konsekuensi logis dari dunia keilmuan yang disandang.
Tanpa transformasi semacam ini, kita hanya akan terus menepuk dada bangga meski di tengah aneka petaka yang tengah membuntuti dan menimpa masyarakat kita di NTT. Saya (tetap) patut menaruh hormat pada YLH dan kaum intelektual NTT umumnya atas debut prestasi akademik yang membanggakan. Namun sekali lagi, tidak dengan itu kaum intelektual hanya tetap berdiam dalam kemapanan, kemasyhuran dan kebanggaan dan lupa turun kepada masyarakat NTT. Bravo Profesor YLH! Sukses NTT! *
Sumber: http://kupang.tribunnews.com.6006.masterweb.net/read/artikel/65720/opini/inertia-dan-transformasi-intelektua
MEMBACA artikel tanggapan Yusuf Leonard Henuk (YLH) terhadap artikel Florianus Geong (FG) (PK, 30 Juni 2011), secara spontan terbayang dalam benak saya betapa ?belepotan? isi kepala YLH yang bergelar profesor itu. YLH memberi tanggapan atas tanggapan FG yang amat jauh dari substansi yang diangkat FG (PK, 22 Juni 2011) dalam menegaskan seruan profetis Hengki Ola Sura (HOS) kepada para profesor NTT (PK,4 Juni 2011). Baik FG maupun HOS, melalui tulisan mereka, sama - sama mendambakan ?turun?nya profesor dari menara gading ilmu dan gelar mereka kepada masyarakat NTT. Aktivitas “turun” dari menara gading ini, oleh FG dan HOS, dianjurkan agar dibuktikan para profesor NTT melalui koran sebagai media yang sangat gampang terjangkau oleh publik NTT. Sayangnya, substansi yang diangkat FG dan HOS itu ditanggapi dan dimengerti secara sangat serampangan oleh YLH, baik dalam artikel menanggapi HOS (PK, 17 Juni 2011) maupun menanggapi FG (PK, 30 Juni 2011).
Dalam artikel tanggapan terhadap HOS, YLH justru memaparkan sederet prestasi (yang masih patut juga dipertanyakan) yang sama sekali tidak diminta atau tidak dimaksudkan oleh HOS. Hal serupa juga tampak dalam artikel tanggapan YLH terhadap FG, yang semakin menunjukkan betapa melencengnya YLH dari substansi masalah yang diangkat baik oleh HOS maupun oleh FG. Dua tanggapan “melenceng” YLH itu mengindikasikan bahwa YLH, meski bergelar profesor, masih bermasalah tidak hanya dalam hal menulis sebuah teks tanggapan, tetapi juga dalam hal membaca teks (mengerti teks). Membaca teks secara salah bisa menyeret orang kepada kesesatan berpikir, bahkan hingga pada kegampangan menjatuhkan vonis tertentu yang tidak tepat sasar.
Kesesatan berpikir dan kegampangan menjatuhkan vonis yang tak tepat sasar ini tampak secara kuat dalam dua artikel tanggapan YLH, yakni kepada FG dan kepada HOS. Pertama, terhadap seruan (anjuran) HOS maupun FG agar para profesor NTT menuangkan gagasan ke media publik (populis) bernama koran, YLH justru berang dengan membawa-bawa soal gengsi menulis. YLH merasa lebih bergengsi kalau menulis di jurnal internasional dengan kredit yang sangat tinggi ketimbang menulis di koran dengan kredit yang jauh di bawah. YLH secara salah mengerti bahwa seruan HOS menidakkan intensi ilmiah YLH dan para profesor NTT lainnya untuk menulis di jurnal ilmiah, termasuk yang berkelas internasional.
Kedua, konteks seruan HOS dan FG berkenaan dengan kebutuhan publik NTT dan atau keprihatinan terhadap situasi masyarakat NTT yang nota bene masih sangat “sepi” dari pemikiran-pemikiran alternatif yang brilian. Dari sinilah, suara seorang profesor dibutuhkan. Namun terhadap ini YLH malah semakin membuktikan dirinya (menegaskan pendapat HOS) sebagai profesor yang masih “ber-menara”dengan menyatakan “lebih baik menulis di jurnal internasional ketimbang di koran”. Hal ini memang tetap harus dikembalikan kepada hak dan kebebasan para profesor. Namun menjadi masalah ketika YLH secara tak etis merendahkan media koran, media publik. Hal perendahan ini semakin tampak menguat dalam pandangan yang amat dikotomistik dengan memposisikan HOS dan FG sebagai mahasiswa, yang hanya patut dan layak membaca koran dan YLH sebagai profesor, yang merasa diri sudah sangat layak mengutip pendapat sendiri. Dalam kasus ini kadar etika profesi YLH patut dipertanyakan. Inikah profesor?
Ketiga, basis argumentasi HOS dan FG adalah situasi dan kebutuhan publik NTT. Ini yang tidak terlihat dalam argumen YLH. Anehnya, profesor sekelas YLH menjadikan SMS (pesan singkat) sebagai basis argumentasi - mendukung paparan prestasi yang dicapai YLH. Di sinilah, letak inkonsistensi pandangan dan pikiran YLH. Di satu sisi, YLH “memposisikan” diri secara sangat elitis, tetapi di sisi lain, ia sendiri menghinakan dirinya secara intelektual sebagai profesor yang bisa mendasarkan suatu argumentasi serius di atas sebaris pesan singkat. Dengan ini, tampaknya sejumput kebanggaan YLH atas prestasi menjadi amat rapuh,longgar dan patut untuk dipertanyakan. Inikah profesor-nya Undana?
Inertia
Dengan paparan YLH tentang sejumput prestasi akademik yang dicapainya, kita patut mengacungkan jempol. Saya terka-gum-kagum ketika membaca debut aka-demik YLH - satu dari sedikit orang NTT yang mengukir prestasi, tidak hanya dalam skala nasional, tetapi juga dalam skala internasional. Saya sampai bergumam, kapan ya saya bisa seperti YLH yang mendulang sukses yang tidak sedikit itu?
Namun, hemat saya, membanggakan sukses masa lalu secara berlebihan bisa berbuntut petaka. Banyak kaum intelektual di mana pun (tidak hanya di NTT), meski dengan track record akademik yang “aduhai”, tidak tahu mau buat apa lagi, selain hanya bisa membanggakan “masa lalu”. Kebanggaan, kemapanan dan kemasyhuran bisa membuat seorang (yang disebut) intelektual menjadi “lembam” (inert). Mereka terlanjur hanyut dalam zona kenyamanan (comfort zone). Mereka terlanjur terjebak dalam complacency trap (kalau tidak dikatakan narsisme).
John Kotter, seorang pakar dari Harvard Business School menyatakan bahwa seorang intelektual yang terkena penyakit ini (personal inertia) selalu menganggap diri mapan, tak terganggu. Karena itu, ketika misalnya tiba-tiba diganggu, apalagi oleh seorang yang terbilang masih “belajar ilmu”, ia bisa berang, bahkan seperti tinta yang belepotan di atas kertas, bicara atau menulis tak kenal ujung pangkalnya.
Transformasi
Suntikan HOS maupun FG kepada para profesor NTT mengindikasikan bahwa absennya kaum intelektual NTT sudah berada pada titik nadir - sebagai dampak dari complacency trap. Impotensi sosial kaum intelektual merupakan puncak dari mengganasnya penyakit inertia, kelembaman.
Karena itu, tak ada salahnya jika kaum intelektual NTT, termasuk para profesor untuk berbenah (transformasi) - suatu turnaround : dari sekedar menulis di jurnal kepada menulis (juga) di koran, dari sekedar berbicara di ruang kuliah kepada terlibat (juga) di ruang publik NTT. Banyak masalah di NTT (tambang, kemiskinan, korupsi, rendahnya mutu pendidikan) membutuhkan bela rasa dan peran serta akademik kaum intelektual. Dalam hal menulis misalnya,termasuk menulis di koran, kita tidak bisa katakan itu sebagai aktivitas dari yang berbakat saja, seperti kata Alo Lilweri dalam opininya (PK,1 Juli 2011), tetapi itu merupakan suatu konsekuensi logis dari dunia keilmuan yang disandang.
Tanpa transformasi semacam ini, kita hanya akan terus menepuk dada bangga meski di tengah aneka petaka yang tengah membuntuti dan menimpa masyarakat kita di NTT. Saya (tetap) patut menaruh hormat pada YLH dan kaum intelektual NTT umumnya atas debut prestasi akademik yang membanggakan. Namun sekali lagi, tidak dengan itu kaum intelektual hanya tetap berdiam dalam kemapanan, kemasyhuran dan kebanggaan dan lupa turun kepada masyarakat NTT. Bravo Profesor YLH! Sukses NTT! *
Sumber: http://kupang.tribunnews.com.6006.masterweb.net/read/artikel/65720/opini/inertia-dan-transformasi-intelektua